PARIWISATA

OPINI

TRADISI

Latest Updates

Orang Maluku Tidak Seperti yang Anda Kira

11:00 AM

Setiap kali seseorang menyebut “orang Maluku”, sering kali yang muncul bukan wajah manusia—melainkan prasangka.

“Keras.”
“Seram.”
“Mukanya seperti preman.”
“Dari daerah konflik, ya?”

Bagi sebagian orang Maluku yang merantau ke Jawa atau kota-kota besar lainnya, kalimat seperti itu bukan cerita asing. Ia hadir dalam bentuk candaan. Dalam tatapan curiga. Dalam pertanyaan yang terdengar biasa, tetapi menyimpan asumsi.

Dan rasisme tidak selalu datang dengan teriakan.
Kadang ia datang dalam bentuk senyuman.

Orang Ambon
Img Source : Orang Ambon #PernahNggaPernah by Cretivox Youtube Channel


#1 “Mukanya Keras”

Banyak orang Maluku tumbuh dengan pengalaman dinilai dari fisiknya terlebih dahulu.

Kulit lebih gelap.
Rahang tegas.
Rambut keriting.
Postur atletis.

Tidak jarang muncul komentar:
“Kok mukanya sangar banget?”
“Serem ya kalau lagi diam.”

Seolah-olah struktur wajah bisa menjadi indikator moral.

Padahal apa yang disebut “muka keras” sering kali hanyalah perbedaan ekspresi budaya. Orang Maluku terbiasa berbicara lugas. Gesturnya hidup. Tatapannya langsung. Itu bukan ancaman. Itu karakter.

Namun dalam ruang sosial yang standar budayanya tersentralisasi, perbedaan mudah diterjemahkan sebagai potensi bahaya.


#2 “Oh, dari Maluku? Daerah Konflik Itu?”

Ada juga pengalaman lain yang lebih halus, tetapi sama menyakitkannya.

Saat menyebut asal daerah, respons yang muncul bukan rasa ingin tahu, melainkan pengaitan dengan konflik masa lalu.

“Di sana masih aman, kan?”
“Masih sering ribut?”

Seolah-olah Maluku berhenti berkembang setelah tragedi akhir 1990-an.

Padahal generasi yang lahir setelah konflik itu kini sudah dewasa. Mereka kuliah, bekerja, membangun usaha, menciptakan karya. Tetapi memori nasional sering kali tertinggal dua dekade di belakang.

Maluku tidak lahir pada tahun 1999.
Dan identitas sebuah masyarakat tidak bisa dikunci oleh satu bab sejarah.


#3 Stereotipe tentang Pendidikan

Ada pula asumsi lain yang lebih struktural:
bahwa daerah timur otomatis tertinggal secara intelektual.

Beberapa orang Maluku yang merantau mengaku pernah diperlakukan dengan nada meremehkan ketika berbicara tentang pendidikan atau kompetensi.

“Wah, pintar juga ya.”
“Kirain di sana sekolahnya masih susah.”

Kalimat yang terdengar ringan, tetapi menyiratkan ekspektasi rendah.

Padahal banyak akademisi, perwira militer, profesional, musisi, peneliti, dan pengusaha berasal dari Maluku. Akses pendidikan memang tidak selalu merata—sebagaimana banyak daerah lain di Indonesia—tetapi mereduksi kapasitas intelektual sebuah masyarakat adalah bentuk ketidakadilan berpikir.


#4 Rasisme yang Tidak Diakui

Masalahnya, rasisme terhadap orang timur sering tidak diakui sebagai rasisme.

Ia dibungkus sebagai candaan.
Disebut “hanya bercanda”.
Dianggap terlalu sensitif jika dipermasalahkan.

Namun bayangkan jika sepanjang hidup Anda terus-menerus diasosiasikan dengan kekerasan, konflik, atau keterbelakangan—hanya karena asal daerah dan ciri fisik.

Itu bukan lagi sekadar candaan.
Itu pembentukan opini kolektif.


#5 Masalahnya Bukan Perbedaan, Tapi Cara Kita Melihat

Indonesia adalah negara yang sangat beragam secara fisik dan budaya. Perbedaan seharusnya menjadi kekayaan, bukan alasan untuk mencurigai.

Jika orang Maluku berbicara tegas, itu budaya komunikasi.
Jika posturnya kuat, itu genetika dan lingkungan.
Jika kulitnya gelap, itu bagian dari keberagaman Nusantara.

Yang perlu dipertanyakan bukan penampilan atau asal daerahnya.

Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa kita begitu cepat menilai.


#6 Maluku Tidak Butuh Dikoreksi

Maluku tidak sedang meminta belas kasihan.
Tidak juga menuntut perlakuan istimewa.

Yang dibutuhkan hanyalah keadilan dalam cara dipandang.

Generasi muda Maluku hari ini hadir di kampus-kampus besar, di perusahaan nasional, di ruang-ruang kreatif digital. Mereka bekerja lebih keras bukan hanya untuk sukses, tetapi sering kali untuk membuktikan bahwa stereotipe itu salah.

Dan itu melelahkan.

Bayangkan jika energi itu bisa sepenuhnya digunakan untuk berkarya, bukan untuk membantah prasangka.


#7 Jika Kita Serius Soal Keberagaman

Keberagaman bukan diuji saat kita menyanyikan lagu daerah.
Ia diuji saat kita berinteraksi dengan orang yang berbeda dari kita.

Selama kita masih nyaman mengatakan “ah, cuma bercanda”,
selama itu pula kita belum benar-benar dewasa sebagai bangsa.

Orang Maluku tidak seperti yang Anda kira.

Dan mungkin, yang perlu diubah bukan karakter mereka—
melainkan cara kita membentuk persepsi.


#8 Quotes
Rasisme tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia datang dalam bentuk senyuman.



#Stereotipe
#Maluku
#tahuribabunyi 

 

90% Mirip Pintu Kota : Tanjung Batu Lubang Luhu – Huamual

11:00 AM
Kalau kamu merasa Pintu Kota Ambon sudah terlalu sering muncul di feed Instagram, mungkin sudah waktunya cari versi yang lebih sepi, lebih alami, dan lebih “rasa petualangan”.

Kenalin, Tanjung Dusun Batu Lubang, Negeri Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat.


Batu Lubang | Luhu - Huamual

Tempat ini sering disebut sebagai versi mini Pintu Kota Ambon. Kenapa? Karena di beberapa sudutnya, formasi bebatuan yang berdiri gagah di tepi laut sekilas memang mirip dengan ikon wisata kebanggaan Ambon itu. Bedanya, di sini suasananya masih sangat natural. Belum terlalu ramai, belum terlalu komersial, dan justru itu yang bikin jatuh cinta.

Begitu tiba di lokasi, mata langsung dimanjakan hamparan laut biru yang luas membentang. Airnya jernih, anginnya segar, dan suara ombaknya seperti terapi alami yang bikin kepala terasa ringan. Cocok banget buat kamu yang lagi penat sama rutinitas atau sekadar ingin kabur sejenak dari hiruk-pikuk kota.

Walaupun belum seterkenal Pintu Kota, siapa pun yang datang pasti akan mendapat kesan tersendiri. Rasanya seperti menemukan surga kecil masih tersembunyi yang belum banyak orang tahu.

Di Tanjung Batu Lubang, kamu nggak cuma datang untuk foto-foto. Banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan. Buat yang hobi memancing, area ini cukup ideal untuk melempar kail sambil menikmati suasana laut terbuka. Bayangkan duduk santai di atas batu, memancing ikan dengan latar laut biru tanpa batas.


Mancing di atas Tanjung Batu Lubang

Kalau haus? Tenang saja. Kamu bisa menikmati kelapa muda segar dari tanaman milik warga sekitar. Sensasi minum kelapa langsung di tepi pantai dengan angin laut yang menyapu wajah — sederhana tapi luar biasa nikmat.

Buat pecinta laut, snorkeling juga bisa jadi pilihan. Kejernihan airnya memungkinkan kamu melihat keindahan bawah laut yang masih alami. Atau kalau ingin santai saja, berenang biasa pun sudah cukup membuat hati senang.


Landscape Tanjung Batu Lubang

Lalu bagaimana cara menuju ke sana ?

Kalau kamu berada di Kota Ambon, perjalanannya cukup mudah dan justru menjadi bagian paling menyenangkan dari pengalaman ini. Dari Terminal Ambon–Hila, kamu bisa naik angkot menuju Pelabuhan Tahoku di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 40–50 menit dengan biaya Rp20.000 per orang.

Setelah tiba di Pelabuhan Tahoku, perjalanan dilanjutkan dengan speed boat menuju Dusun Batu Lubang. Waktu tempuhnya sekitar 90 menit dengan biaya Rp70.000 per orang. Dengan total biaya yang relatif terjangkau, kamu sudah bisa menikmati salah satu spot wisata yang masih asri di Seram Barat.

Menariknya, perjalanan laut menuju Batu Lubang bukan sekadar perpindahan tempat. Sepanjang perjalanan, kamu akan disuguhi pemandangan laut biru, Desa-desa terpencil di Huamual yang tampak dari kejauhan, serta hembusan angin laut yang menyegarkan. Kadang justru momen di atas speed boat inilah yang membuat perjalanan terasa seperti petualangan sungguhan.

Tidak hanya itu, kamu juga akan melewati Tanjung Sial yang konon katanya ada legenda sepasang buaya putih.


Tanjung Sial - Huamual

Tanjung Batu Lubang adalah destinasi yang cocok untuk kamu yang menyukai keindahan alam tanpa keramaian berlebihan. Tempat ini menawarkan ketenangan, panorama unik, serta pengalaman yang berbeda dari wisata mainstream. Kalau kamu sedang menyusun daftar destinasi berikutnya di Maluku, mungkin ini saatnya memasukkan Tanjung Batu Lubang Luhu ke dalam bucket list. Siapa tahu, sebelum tempat ini benar-benar viral, kamu sudah lebih dulu menikmati keindahannya.





#Luhu
#Huamual
#BatuLubang
#tahuribabunyi

Video Asusila Viral di Ambon: Ketika Pendidikan dan Hukum Gagal, Generasi Penerus Jadi Korban

11:10 PM

Kasus video asusila yang viral di Ambon bukan sekadar persoalan moral individu. Ini adalah alarm keras bahwa pendidikan karakter, penegakan hukum, dan literasi digital di daerah ini sedang tidak baik-baik saja. Lebih berbahaya lagi, konten semacam ini berpotensi merusak mental generasi muda yang seharusnya tumbuh cerdas, kreatif, dan berbudaya.

Video Asusila Viral di Ambon


Masalahnya bukan siapa pelakunya, melainkan apa dampaknya dan mengapa sistem membiarkannya berulang.


Viral Asusila: Ancaman Nyata bagi Mental Anak dan Remaja

Di era media sosial, video asusila bukan lagi konsumsi terbatas orang dewasa. Sekali viral, konten tersebut bisa:

  • muncul di ponsel anak sekolah,

  • beredar di grup WhatsApp keluarga,

  • dan dikonsumsi tanpa kontrol.

Paparan berulang terhadap konten seksual menyimpang dapat membentuk candu visual, mengaburkan batas normal–tidak normal, dan merusak cara generasi muda memandang relasi manusia. Ini bukan opini emosional, tetapi fakta psikologis yang sudah lama diperingatkan para ahli.

Jika dibiarkan, kita sedang mencetak generasi yang:

  • kehilangan orientasi nilai,

  • lebih mengenal sensasi daripada prestasi,

  • dan menukar kreativitas dengan konsumsi konten menyimpang.


Pendidikan Gagal Jadi Benteng Moral

Pendidikan hari ini terlalu sibuk mengejar nilai dan kelulusan, tetapi lupa membangun karakter, etika digital, dan kontrol diri. Anak-anak dibiarkan belajar tentang seks, relasi, dan tubuh manusia dari algoritma media sosial—bukan dari pendampingan orang tua, sekolah, dan lingkungan.

Ketika pendidikan gagal hadir secara utuh, maka jangan heran jika generasi muda lebih cepat meniru apa yang viral daripada memahami mana yang patut dan mana yang merusak.


Lemahnya Penegakan Hukum: Penyimpangan Jadi Hiburan

Lebih ironis lagi, penyebaran konten asusila sering kali tidak diikuti penegakan hukum yang tegas. Akibatnya:

  • pelaku tidak jera,

  • penyebar merasa aman,

  • penonton merasa wajar.

Hukum yang lemah mengirim pesan berbahaya:
selama viral, semua bisa dimaafkan.

Padahal hukum seharusnya berdiri sebagai pelindung masyarakat, terutama anak di bawah umur yang paling rentan terdampak secara mental dan psikologis.


Budaya Orang Maluku: Didikan Hilang, Penghakiman Merajalela

Orang Maluku dikenal dengan budaya didikan, rasa malu, dan hidup orang basudara. Sayangnya, nilai ini justru hilang saat kasus viral muncul. Yang terjadi bukan refleksi, melainkan hujatan massal.

Banyak orang dengan mudah mencaci pelaku di media sosial, seolah-olah mereka sendiri tanpa dosa, tanpa cela, dan tanpa kesalahan. Ini adalah kemunafikan sosial yang berbahaya.

Menghujat bukan mendidik.
Mempermalukan bukan menyelesaikan masalah.

Budaya Maluku tidak mengajarkan persekusi digital, melainkan tanggung jawab kolektif untuk membenahi.


Salah Arah: Mengutuk Pelaku, Mengabaikan Sistem

Fokus berlebihan pada pelaku justru membuat kita lupa pada akar masalah:

  • pendidikan karakter yang rapuh,

  • pengawasan digital yang lemah,

  • hukum yang tidak konsisten,

  • dan budaya viral yang haus sensasi.

Jika semua energi habis untuk menghujat, maka kasus serupa akan terus berulang, dan generasi penerus tetap menjadi korban diam-diam.


Kesimpulan: Ambon Harus Berhenti Menormalisasi Kerusakan

Video asusila viral bukan hiburan, bukan gosip, dan bukan bahan ejekan. Ini adalah ancaman serius bagi masa depan generasi Maluku. Jika pendidikan dan hukum terus gagal berjalan seiring, maka kecerdasan dan kreativitas anak-anak Ambon akan terkikis oleh candu penyimpangan digital.

Sudah waktunya masyarakat berhenti berpura-pura suci dan mulai bersikap dewasa:

  • mendidik, bukan menghakimi;

  • menegakkan hukum, bukan membiarkan;

  • melindungi generasi muda, bukan menormalisasi kerusakan.

Karena jika hari ini kita diam, besok yang rusak bukan hanya moral—tetapi masa depan Maluku itu sendiri.


#LiterasiAsusila
#PendidikanKarakter
#tahuribabunyi

8 Akibat UMK Ambon 2026 : Rp. 3.381.225

10:42 PM

Penetapan Upah Minimum Kota (UMK) Ambon tahun 2026 sebesar Rp 3.381.225 kembali menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, kebijakan ini dianggap sebagai bentuk perlindungan bagi pekerja. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar: apakah angka ini benar-benar realistis dan berpihak pada kondisi riil masyarakat Ambon?

8 Akibat UMK Ambon 2026 : Rp. 3.381.225

Untuk melihatnya secara lebih jujur, UMK 2026 perlu dibedah melalui sisi kelebihan (plus) dan kekurangan (minus).


PLUS: Dampak Positif UMK Ambon 2026

  1. Perlindungan Upah Minimum Pekerja
    UMK memberikan batas aman agar pekerja tidak dibayar di bawah standar. Ini penting, terutama bagi pekerja sektor swasta dan buruh yang rentan terhadap eksploitasi upah.

  2. Menjaga Daya Beli di Tengah Kenaikan Harga
    Dengan harga kebutuhan pokok yang terus naik, UMK 2026 setidaknya membantu menahan penurunan daya beli masyarakat pekerja di Kota Ambon.

  3. Mendorong Produktivitas dan Loyalitas Pekerja
    Upah yang lebih layak dapat meningkatkan semangat kerja, mengurangi tingkat keluar-masuk tenaga kerja, serta mendorong stabilitas dunia usaha.

  4. Menjadi Acuan Resmi Dunia Kerja
    UMK memberi kepastian hukum bagi pekerja dan pengusaha, sehingga hubungan industrial memiliki standar yang jelas.


MINUS: Dampak Negatif dan Catatan Kritis

  1. Belum Sejalan dengan Biaya Hidup Nyata di Kota Ambon
    Rp 3.381.225 masih terasa pas-pasan, terutama bagi pekerja yang sudah berkeluarga. Biaya kontrakan, transportasi, dan kebutuhan pendidikan sering kali tidak sebanding dengan angka UMK.

  2. Beban Berat bagi UMKM dan Usaha Kecil
    Tidak semua pelaku usaha memiliki kemampuan finansial yang sama. Kenaikan UMK berpotensi menekan UMKM, bahkan memicu pengurangan tenaga kerja secara diam-diam.

  3. Risiko Pelanggaran dan Upah di Bawah Meja
    Dalam praktiknya, sebagian perusahaan bisa saja menyiasati aturan dengan sistem kontrak, jam kerja tidak penuh, atau pembayaran di bawah UMK tanpa perlindungan jelas.

  4. UMK Jadi Formalitas, Bukan Kesejahteraan
    Jika pengawasan lemah, UMK hanya menjadi angka di atas kertas. Banyak pekerja tetap menerima upah di bawah standar tanpa keberanian melapor.


Catatan Kritis

Penetapan UMK Ambon 2026 seharusnya tidak berhenti pada pengumuman angka. Yang lebih penting adalah pengawasan, penegakan aturan, dan keberpihakan nyata kepada kondisi lapangan.

Tanpa pengawasan ketat, UMK justru berisiko:

  • membebani usaha kecil

  • mendorong praktik kerja informal

  • dan gagal meningkatkan kesejahteraan pekerja


Kesimpulan

UMK Ambon 2026 sebesar Rp 3.381.225 memiliki niat baik, tetapi belum sepenuhnya menjawab persoalan struktural ketenagakerjaan di Kota Ambon. Kebijakan ini berada di titik tengah: tidak cukup tinggi untuk menjamin hidup layak, namun cukup berat bagi sebagian pelaku usaha.

Jika pemerintah ingin UMK benar-benar berdampak, maka:

  • data biaya hidup harus lebih realistis

  • pengawasan harus tegas

  • dan UMKM perlu didampingi, bukan dibiarkan berjuang sendiri

UMK bukan sekadar angka tahunan, melainkan cermin keberpihakan negara terhadap pekerja dan masa depan ekonomi daerah.



#Ambon
#UMK
#tahuribabunyi

 
Copyright © tahuribabunyi. Designed by OddThemes