Showing posts with label OPINI. Show all posts
Showing posts with label OPINI. Show all posts

Orang Maluku Tidak Seperti yang Anda Kira

11:00 AM

Setiap kali seseorang menyebut “orang Maluku”, sering kali yang muncul bukan wajah manusia—melainkan prasangka.

“Keras.”
“Seram.”
“Mukanya seperti preman.”
“Dari daerah konflik, ya?”

Bagi sebagian orang Maluku yang merantau ke Jawa atau kota-kota besar lainnya, kalimat seperti itu bukan cerita asing. Ia hadir dalam bentuk candaan. Dalam tatapan curiga. Dalam pertanyaan yang terdengar biasa, tetapi menyimpan asumsi.

Dan rasisme tidak selalu datang dengan teriakan.
Kadang ia datang dalam bentuk senyuman.

Orang Ambon
Img Source : Orang Ambon #PernahNggaPernah by Cretivox Youtube Channel


#1 “Mukanya Keras”

Banyak orang Maluku tumbuh dengan pengalaman dinilai dari fisiknya terlebih dahulu.

Kulit lebih gelap.
Rahang tegas.
Rambut keriting.
Postur atletis.

Tidak jarang muncul komentar:
“Kok mukanya sangar banget?”
“Serem ya kalau lagi diam.”

Seolah-olah struktur wajah bisa menjadi indikator moral.

Padahal apa yang disebut “muka keras” sering kali hanyalah perbedaan ekspresi budaya. Orang Maluku terbiasa berbicara lugas. Gesturnya hidup. Tatapannya langsung. Itu bukan ancaman. Itu karakter.

Namun dalam ruang sosial yang standar budayanya tersentralisasi, perbedaan mudah diterjemahkan sebagai potensi bahaya.


#2 “Oh, dari Maluku? Daerah Konflik Itu?”

Ada juga pengalaman lain yang lebih halus, tetapi sama menyakitkannya.

Saat menyebut asal daerah, respons yang muncul bukan rasa ingin tahu, melainkan pengaitan dengan konflik masa lalu.

“Di sana masih aman, kan?”
“Masih sering ribut?”

Seolah-olah Maluku berhenti berkembang setelah tragedi akhir 1990-an.

Padahal generasi yang lahir setelah konflik itu kini sudah dewasa. Mereka kuliah, bekerja, membangun usaha, menciptakan karya. Tetapi memori nasional sering kali tertinggal dua dekade di belakang.

Maluku tidak lahir pada tahun 1999.
Dan identitas sebuah masyarakat tidak bisa dikunci oleh satu bab sejarah.


#3 Stereotipe tentang Pendidikan

Ada pula asumsi lain yang lebih struktural:
bahwa daerah timur otomatis tertinggal secara intelektual.

Beberapa orang Maluku yang merantau mengaku pernah diperlakukan dengan nada meremehkan ketika berbicara tentang pendidikan atau kompetensi.

“Wah, pintar juga ya.”
“Kirain di sana sekolahnya masih susah.”

Kalimat yang terdengar ringan, tetapi menyiratkan ekspektasi rendah.

Padahal banyak akademisi, perwira militer, profesional, musisi, peneliti, dan pengusaha berasal dari Maluku. Akses pendidikan memang tidak selalu merata—sebagaimana banyak daerah lain di Indonesia—tetapi mereduksi kapasitas intelektual sebuah masyarakat adalah bentuk ketidakadilan berpikir.


#4 Rasisme yang Tidak Diakui

Masalahnya, rasisme terhadap orang timur sering tidak diakui sebagai rasisme.

Ia dibungkus sebagai candaan.
Disebut “hanya bercanda”.
Dianggap terlalu sensitif jika dipermasalahkan.

Namun bayangkan jika sepanjang hidup Anda terus-menerus diasosiasikan dengan kekerasan, konflik, atau keterbelakangan—hanya karena asal daerah dan ciri fisik.

Itu bukan lagi sekadar candaan.
Itu pembentukan opini kolektif.


#5 Masalahnya Bukan Perbedaan, Tapi Cara Kita Melihat

Indonesia adalah negara yang sangat beragam secara fisik dan budaya. Perbedaan seharusnya menjadi kekayaan, bukan alasan untuk mencurigai.

Jika orang Maluku berbicara tegas, itu budaya komunikasi.
Jika posturnya kuat, itu genetika dan lingkungan.
Jika kulitnya gelap, itu bagian dari keberagaman Nusantara.

Yang perlu dipertanyakan bukan penampilan atau asal daerahnya.

Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa kita begitu cepat menilai.


#6 Maluku Tidak Butuh Dikoreksi

Maluku tidak sedang meminta belas kasihan.
Tidak juga menuntut perlakuan istimewa.

Yang dibutuhkan hanyalah keadilan dalam cara dipandang.

Generasi muda Maluku hari ini hadir di kampus-kampus besar, di perusahaan nasional, di ruang-ruang kreatif digital. Mereka bekerja lebih keras bukan hanya untuk sukses, tetapi sering kali untuk membuktikan bahwa stereotipe itu salah.

Dan itu melelahkan.

Bayangkan jika energi itu bisa sepenuhnya digunakan untuk berkarya, bukan untuk membantah prasangka.


#7 Jika Kita Serius Soal Keberagaman

Keberagaman bukan diuji saat kita menyanyikan lagu daerah.
Ia diuji saat kita berinteraksi dengan orang yang berbeda dari kita.

Selama kita masih nyaman mengatakan “ah, cuma bercanda”,
selama itu pula kita belum benar-benar dewasa sebagai bangsa.

Orang Maluku tidak seperti yang Anda kira.

Dan mungkin, yang perlu diubah bukan karakter mereka—
melainkan cara kita membentuk persepsi.


#8 Quotes
Rasisme tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia datang dalam bentuk senyuman.



#Stereotipe
#Maluku
#tahuribabunyi 

 

Video Asusila Viral di Ambon: Ketika Pendidikan dan Hukum Gagal, Generasi Penerus Jadi Korban

11:10 PM

Kasus video asusila yang viral di Ambon bukan sekadar persoalan moral individu. Ini adalah alarm keras bahwa pendidikan karakter, penegakan hukum, dan literasi digital di daerah ini sedang tidak baik-baik saja. Lebih berbahaya lagi, konten semacam ini berpotensi merusak mental generasi muda yang seharusnya tumbuh cerdas, kreatif, dan berbudaya.

Video Asusila Viral di Ambon


Masalahnya bukan siapa pelakunya, melainkan apa dampaknya dan mengapa sistem membiarkannya berulang.


Viral Asusila: Ancaman Nyata bagi Mental Anak dan Remaja

Di era media sosial, video asusila bukan lagi konsumsi terbatas orang dewasa. Sekali viral, konten tersebut bisa:

  • muncul di ponsel anak sekolah,

  • beredar di grup WhatsApp keluarga,

  • dan dikonsumsi tanpa kontrol.

Paparan berulang terhadap konten seksual menyimpang dapat membentuk candu visual, mengaburkan batas normal–tidak normal, dan merusak cara generasi muda memandang relasi manusia. Ini bukan opini emosional, tetapi fakta psikologis yang sudah lama diperingatkan para ahli.

Jika dibiarkan, kita sedang mencetak generasi yang:

  • kehilangan orientasi nilai,

  • lebih mengenal sensasi daripada prestasi,

  • dan menukar kreativitas dengan konsumsi konten menyimpang.


Pendidikan Gagal Jadi Benteng Moral

Pendidikan hari ini terlalu sibuk mengejar nilai dan kelulusan, tetapi lupa membangun karakter, etika digital, dan kontrol diri. Anak-anak dibiarkan belajar tentang seks, relasi, dan tubuh manusia dari algoritma media sosial—bukan dari pendampingan orang tua, sekolah, dan lingkungan.

Ketika pendidikan gagal hadir secara utuh, maka jangan heran jika generasi muda lebih cepat meniru apa yang viral daripada memahami mana yang patut dan mana yang merusak.


Lemahnya Penegakan Hukum: Penyimpangan Jadi Hiburan

Lebih ironis lagi, penyebaran konten asusila sering kali tidak diikuti penegakan hukum yang tegas. Akibatnya:

  • pelaku tidak jera,

  • penyebar merasa aman,

  • penonton merasa wajar.

Hukum yang lemah mengirim pesan berbahaya:
selama viral, semua bisa dimaafkan.

Padahal hukum seharusnya berdiri sebagai pelindung masyarakat, terutama anak di bawah umur yang paling rentan terdampak secara mental dan psikologis.


Budaya Orang Maluku: Didikan Hilang, Penghakiman Merajalela

Orang Maluku dikenal dengan budaya didikan, rasa malu, dan hidup orang basudara. Sayangnya, nilai ini justru hilang saat kasus viral muncul. Yang terjadi bukan refleksi, melainkan hujatan massal.

Banyak orang dengan mudah mencaci pelaku di media sosial, seolah-olah mereka sendiri tanpa dosa, tanpa cela, dan tanpa kesalahan. Ini adalah kemunafikan sosial yang berbahaya.

Menghujat bukan mendidik.
Mempermalukan bukan menyelesaikan masalah.

Budaya Maluku tidak mengajarkan persekusi digital, melainkan tanggung jawab kolektif untuk membenahi.


Salah Arah: Mengutuk Pelaku, Mengabaikan Sistem

Fokus berlebihan pada pelaku justru membuat kita lupa pada akar masalah:

  • pendidikan karakter yang rapuh,

  • pengawasan digital yang lemah,

  • hukum yang tidak konsisten,

  • dan budaya viral yang haus sensasi.

Jika semua energi habis untuk menghujat, maka kasus serupa akan terus berulang, dan generasi penerus tetap menjadi korban diam-diam.


Kesimpulan: Ambon Harus Berhenti Menormalisasi Kerusakan

Video asusila viral bukan hiburan, bukan gosip, dan bukan bahan ejekan. Ini adalah ancaman serius bagi masa depan generasi Maluku. Jika pendidikan dan hukum terus gagal berjalan seiring, maka kecerdasan dan kreativitas anak-anak Ambon akan terkikis oleh candu penyimpangan digital.

Sudah waktunya masyarakat berhenti berpura-pura suci dan mulai bersikap dewasa:

  • mendidik, bukan menghakimi;

  • menegakkan hukum, bukan membiarkan;

  • melindungi generasi muda, bukan menormalisasi kerusakan.

Karena jika hari ini kita diam, besok yang rusak bukan hanya moral—tetapi masa depan Maluku itu sendiri.


#LiterasiAsusila
#PendidikanKarakter
#tahuribabunyi

8 Akibat UMK Ambon 2026 : Rp. 3.381.225

10:42 PM

Penetapan Upah Minimum Kota (UMK) Ambon tahun 2026 sebesar Rp 3.381.225 kembali menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, kebijakan ini dianggap sebagai bentuk perlindungan bagi pekerja. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar: apakah angka ini benar-benar realistis dan berpihak pada kondisi riil masyarakat Ambon?

8 Akibat UMK Ambon 2026 : Rp. 3.381.225

Untuk melihatnya secara lebih jujur, UMK 2026 perlu dibedah melalui sisi kelebihan (plus) dan kekurangan (minus).


PLUS: Dampak Positif UMK Ambon 2026

  1. Perlindungan Upah Minimum Pekerja
    UMK memberikan batas aman agar pekerja tidak dibayar di bawah standar. Ini penting, terutama bagi pekerja sektor swasta dan buruh yang rentan terhadap eksploitasi upah.

  2. Menjaga Daya Beli di Tengah Kenaikan Harga
    Dengan harga kebutuhan pokok yang terus naik, UMK 2026 setidaknya membantu menahan penurunan daya beli masyarakat pekerja di Kota Ambon.

  3. Mendorong Produktivitas dan Loyalitas Pekerja
    Upah yang lebih layak dapat meningkatkan semangat kerja, mengurangi tingkat keluar-masuk tenaga kerja, serta mendorong stabilitas dunia usaha.

  4. Menjadi Acuan Resmi Dunia Kerja
    UMK memberi kepastian hukum bagi pekerja dan pengusaha, sehingga hubungan industrial memiliki standar yang jelas.


MINUS: Dampak Negatif dan Catatan Kritis

  1. Belum Sejalan dengan Biaya Hidup Nyata di Kota Ambon
    Rp 3.381.225 masih terasa pas-pasan, terutama bagi pekerja yang sudah berkeluarga. Biaya kontrakan, transportasi, dan kebutuhan pendidikan sering kali tidak sebanding dengan angka UMK.

  2. Beban Berat bagi UMKM dan Usaha Kecil
    Tidak semua pelaku usaha memiliki kemampuan finansial yang sama. Kenaikan UMK berpotensi menekan UMKM, bahkan memicu pengurangan tenaga kerja secara diam-diam.

  3. Risiko Pelanggaran dan Upah di Bawah Meja
    Dalam praktiknya, sebagian perusahaan bisa saja menyiasati aturan dengan sistem kontrak, jam kerja tidak penuh, atau pembayaran di bawah UMK tanpa perlindungan jelas.

  4. UMK Jadi Formalitas, Bukan Kesejahteraan
    Jika pengawasan lemah, UMK hanya menjadi angka di atas kertas. Banyak pekerja tetap menerima upah di bawah standar tanpa keberanian melapor.


Catatan Kritis

Penetapan UMK Ambon 2026 seharusnya tidak berhenti pada pengumuman angka. Yang lebih penting adalah pengawasan, penegakan aturan, dan keberpihakan nyata kepada kondisi lapangan.

Tanpa pengawasan ketat, UMK justru berisiko:

  • membebani usaha kecil

  • mendorong praktik kerja informal

  • dan gagal meningkatkan kesejahteraan pekerja


Kesimpulan

UMK Ambon 2026 sebesar Rp 3.381.225 memiliki niat baik, tetapi belum sepenuhnya menjawab persoalan struktural ketenagakerjaan di Kota Ambon. Kebijakan ini berada di titik tengah: tidak cukup tinggi untuk menjamin hidup layak, namun cukup berat bagi sebagian pelaku usaha.

Jika pemerintah ingin UMK benar-benar berdampak, maka:

  • data biaya hidup harus lebih realistis

  • pengawasan harus tegas

  • dan UMKM perlu didampingi, bukan dibiarkan berjuang sendiri

UMK bukan sekadar angka tahunan, melainkan cermin keberpihakan negara terhadap pekerja dan masa depan ekonomi daerah.



#Ambon
#UMK
#tahuribabunyi

4 Hal ini Membuat Maluku Tidak Bisa Pasok Bahan Pokok Makan Bergisi Gratis

12:18 PM

Satu lagi peluang emas untuk masyarakat desa khususnya yang berlimpah sumber daya alam pertanian, perkebunan, peternakan hingga kelautan perikanan. Pasalnya, telah hadir Badan Gizi Nasional (BGN) yang bertugas untuk mengatur sistem tatakelola gizi masyarakat serta bertanggungjawab langsung kepada Presiden.

Kebutuhan gizi nasional yang meningkat pesat pasca terbitnya Peraturan Presiden nomor 83 Tahun 2024 ini menciptakan peluang baru bagi sektor hulu khususnya pasokan pangan dan bumbu dimana seperti yang kita ketahui semua itu ada di level desa.

diskusi santa bersama salah satu kelompok pertanian ubi jalar dan jagung, Kab. Seram Bagian Barat

 

Tidak tanggung - tanggung, sekarang Bulog sebagai perusahaan beras nomor satu di Indonesisa pun bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Tidak hanya itu, terobosan baru dari kementrian pertanian yakni Petani Milenial menjadi angin segar bagi para mahasiswa hingga fresh graduate untuk segera menjadi petani.

Di sisi lain, Desa sebagai pemasok bahan baku nomor satu di negara ini ternyata masih belum mencukupi kebutuhan pangan apalagi kebutuhan gizi. Skema baru rantai pasok bahan makanan bergizi harus disambut baik oleh permerintah dan masyarakat desa khususnya desa - desa dengan pertanian dan perikanan terbaik yang ada di Maluku.

Skema yang ditawarkan BGN salah satunya adalah kolaborasi pasokan bahan baku hasil pertanian/perkebunan, perikanan dan peternakan hingga olahan roti skala mikro harus dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Bumdes sebagai processor sekaligus hub memegang peran paling penting dalam mensukseskan skema ini.

Ini akan sangat berdampak pada putaran ekonomi level desa sekaligus terobosan dimana setiap Bumdes akan berlomba menjadi pemasok makanan bergizi di sekolah pada masing - masing desa. Jika peluang ini tidak disambut dengan baik, maka betapa ruginya masyarakat desa khususnya petani dan nelayan.

Sebagai informasi, terdapat beberapa fakta secara general ekosistem Bumdes dan putaran ekonomi desa - desa di Maluku seperti ;

#1. Bumdes mati suri

Bumdes yang seharusnya mendapat stimulasi dari Dana Desa untuk menjalankan bisnis modelnya diharapkan dapat berjalan dengan baik hingga memberikan respon balik ke desa berupa Pendapatan Asli Desa (PADes), namun faktanya kekurangan sumber daya manusia khususnya di bidang keuangan, ekonomi dan bisnis menjadi faktor utama bumdes terbentuk hanya di awal, setelah penyertaan modal selesai, bumdes pun hilang eksistensi dan perannya.


#2 Menajemen kelompok ekonomi Desa

Inisiatif masyarakat, baik petani maupun nelayan dalam membentuk kelompok - kelompok ekonomi mikro dengan tujuan memudahkan pekerjaan dan stabilisasi hasil panen ternyata juga belum maksimal implementasinya. Dominasi keluarga dalam kepengurusan kelompok menimbulkan gesekan internal hingga terjadi gap yang berdampak buruk bagi menajemen kelompok.


#3 Bantuan infrastruktur pertanian / perikanan berdasar Like & Dislike

Bantuan sarpras dan pendampingan dari pemerintah dalam hal infrastruktur pertanian, peternakan hingga kelautan perikanan guna memompa kualitas dan kwantitas hasil panen masih berdasarkan like dan dislike. Di beberapa Desa di Kabupaten Seram Bagian Timur misalnya, terdapat petani murni yang menerima bantuan mesin 25PK padahal yang bersangkutan bukan nelayan, akhirnya mesin tersebut dijual dan tidak ada kelanjutan hasil panen ikan. 


#4 Psikologi masyarakat 

Beruntung jika pada suatu desa masyarakatnya partisipatif, kompak dan saling pengertian. Jika tidak, maka sudah pasti dominan kebiasaan malas, tidak merawat kebun, hanya menanti BLT atau bahkan mencuri. 

Maluku yang terkenal dengan Papeda dan Ikan Kuah kuning ini jelas berarti unggul dalam hal ikan dan sagu. Untuk bisa berasimilasi dengan program pemerintah dalam hal pemenuhan gizi nasional, pilihan ada di tangan masyarakat.




#makanbergizigratis
#BadanGiziNasional
#tahuribabunyi

7 Komunitas Paling Aneh di Ambon

4:19 PM

Nah, Ambon sekarang sudah beda jauh dibanding sepuluh tahun lalu. Perkembangan teknologi, mudahnya akses informasi, hingga trend fashion dan kuliner sangat mempengaruhi karakter orang Ambon yang semulanya terkesan jahat - jahat, kini sudah mulai beralih ke open minded dan lebih mudah berinteraksi lintas jaringan.

Katogori komunitas yang tadinya hanya sebatas seni, baca tulis, musik dan lingkungan, kini sudah mulai menjamur berbagai komunitas dengan bidang yang bisa dibilang cukup aneh, mulai dari :

#1 PENDEKAR 2023

Bukan komunitas bela diri. Pendekar adalah kependekan dari Penjaga Daerah Sekitar yang bergerak di bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak termasuk lingkungan. Uniknya, Komunitas ini hanya terdiri dari anak - anak usia di bawah 18 tahun. Yang paling luar biasa dari komunitas ini adalah ketika mereka belum memahami betul sistem birokrasi dan keterbatasan pengalaman, justru mereka mampu merencanakan dan mengeksekusi program - program besar tanpa backup orang belakang dan anggaran proyek. Salah satu program sukses mereka adalah Workshop dan eksekusi pembersihan pantai serta tanam 200 mangrove di Pantai Desa Tawiri unik memulihkan ekosistem pantai di sana. Total partisipan lebih dari 250 bocah dan perangkat Desa mulai dari RT, Kepala Zoa hingga Babinkamtibmas dan Babinsa Desa Tawiri. Lebih dari 40 kantong besar berisi sampah berhasil mereka kumpulkan dan mengangkutnya ke tempat sampah.

#2 Komunitas kontes nyanyi, fashion, kecantikan dan ketampatan

Dulu kita hanya mengenal Indonesia Idol dan Bintang Radio. Sekarang banyak sekali kontes yang dipromosikan di Maluku hingga melahirkan agency yang membina calon - calon peserta. Tidak sedikit anak - anak kecil, remaja hingga dewasa yang berminat mendaftar dan mengikuti kontes-kontes tersebut, mungkin karena anak - anak jaman sekarang lebih tertarik dengan kegiatan ekstrakurikuler dan panggung untuk mengasah bakat walaupun ternyata ekspektasi mereka akhirnya sangat berbeda dengan realita yang dihadapi. Menajemen abal - abal, tumpang tindih kepentingan, hingga kena tipu, sering kali membuat para kontestan kecewa yang akhirnya membuat beberapa ajang bergengsi terkesan tidak professional.

#3 Komunitas LGBT

Tanpa disadari, kampanye hitam kaum 'pelangi' mulai diperbincangkan secara diam - diam. Hal yang dianggap tabuh ini tentu saja ditolak 100% orang Maluku apalagi seiring bertambahnya kasus HIV/AIDS. Waspada lingkungan sekitar anda, mulai dari tetangga, koskosan, teman kantor, atau bahkan diri anda sendiri tanpa anda sadari.

#4  Komunitas Politik Lapangan

Bagi yang sering nongkrong di pos ojek, kafe, rumah kopi atau restoran pasti pernah merasakan risihnya orang sebelah yang bicara panjang lebar soal politik bak asisten pribadi Socrates dengan suara yang sengaja dikeraskan. Orang - orang ini biasanya punya komunitas politik yang ditugaskan untuk menggiring issue atau mengumpulkan informasi di lapangan demi kepentingan tertentu. Walaupun pada ujungnya sudah pasti yang didapat orang - orang seperti ini hanyalah gigit jari.

#5 Panggel Pulang

Kampung panggel pulang, sekolah panggel pulang, teman masa kecil panggel pulang, kompleks panggel pulang, pokoknya hampir semua jaringan ada panggil pulangnya. Setelah pulang, biasanya ada pesta, silaturahmi, update silsilah keluarga dan jumlah jiwa, ujung-ujungnya ada kepentingan politiknya juga. Hmm

#6 Komunitas Mancing

Perilaku komunitas mancing bukan lagi naik perahu lalu mancing di sekitar saharu. Sekarang hampir di tiap jembatan ada saja orang yang mancing, di pinggir - pinggir pengeringan pantai ada juga yang mancing, di atas kapal yang lagi bebas jadual pun ada yang mancing, di atas tebing - tebing batu karang ada juga yang mancing. Walaupun hanya bawa pulang sisa umpan tanpa hasil, besoknya si tukang mancing ini akan balik lagi ke tempat yang sama. Begitu seterusnya sampai entah kapan mereka berhenti mancing.

#7 KOMA

Kalau tidak ada yang mengucapkan kata KOMA, maka komunitas ini akan terus mimun kopi hingga bergelas - gelas. KOMA adalah singgatan dari Kopi Maluku sekaligus kata penutup untuk mengakhiri pertemuan minum kopi. Yang membedakan dari peminum kopi lain adalah setiap personel KOMA mampu minum lebih dari lima gelas berturut - turut SETIAP HARI. Anehnya mereka tetap sehat dan tidak terkena penyakit asam lambung ataupun jantung. Konon mereka ini adalah orang - orang yang sangat memahami dunia kopi.



#komunitasambon
#komunitasmaluku
#komunitas

Pilkada Maluku : Titik Terang Rekomendasi Partai Politik

1:00 PM
Dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan lagi, Maluku akan memasuki atmosfer pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) khususnya pada empat kabupaten yaitu; Buru Selatan, Seram Bagian Timur, Kepulauan Aru dan Maluku Barat Daya. Mulai dari proses kampanye hingga waktu pencoblosan pada tanggal 9 Desember 2020.

Pilkada Maluku
Image Pilkada 2020
Source :CNNINDONESIA
Pergerakan konsolidasi mulai nampak baik dari sisi kandidat, tim sukses, partai politik, hingga pihak penyelenggara yaitu KPU, Bawaslu serta TNI-POLRI. Sinergitas dari pihak - pihak terkait tersebut merupakan faktor penting dalam menyukseskan kelancaran Pilkada demi keberlangsungkan kehidupan dan pertumbuhan daerah ke arah yang lebih baik di tengah transisi perubahan zaman (masa pandemi).

Terlihat jelas bahwa para kandidat yang menempuh jalur Parpol sudah dan sedang memperjuangkan rekomendasi guna kelengkapan pendaftaran di KPUD yang jatuh pada tanggal 4 September nanti.

Lantas, bagaimanakah cara atau teknik setiap kandidat dan timses dalam memperjuangkan rekomendasi parpol ? masihkah teknik politik transaksional yang diunggulkan ? atau masih adakah harapan untuk para pendatang baru memasuki arena pesta demokrasi ?

Menurut Mahfud MD dalam pidatonya, beliau mengajak setiap petarung agar tidak bermain curang. Pesan tersebut disampaikan dengan bahasa senda gurau politik yang dikemas dalam sebuah pantun yang berbunyi ;

"Naik kuda ke cianjur dengan maksud membeli kencur. Lakukan Pilkada dengan jujur agar Anda tidak hancur. Kalau Anda curang, sekarang berjaya, suatu saat akan hancur..."

Sangat sederhana namun berbahaya jika ultimatum ini diabaikan apalagi dilanggar. Bagaimana tidak, ini adalah pesan seorang mantan Mentri Pertahanan yang sekarang menjabat sebagai Menkopolhukam.

Dengan realita transisi zaman yang terjadi sekarang, setiap elemen baik pemerintah, koorporasi, akademisi hingga rakyat jelata, mengalami tekanan luar biasa akibat pandemi Covid-19. Setiap orang harus ekstra berpikir keras untuk mengeksekusi setiap alternatif solusi agar mampu mempertahankan diri maupun kelompok jaringan demi tujuan masa depan yang sudah direncanakan sebelumnya. Sehingga masa pandemi yang merupakan kengerian ini dapat diubah menjadi batu loncatan untuk bisa selamat dan mampu berkolaborasi dengan tatanan dunia baru kelak.

Mengingat Pilkada 2020 yang akan dilaksanakan di sejumlah daerah di Indonesia termasuk empat kabupaten di Maluku, maka taktik dan strategi politik transaksional sudah pasti tidak menjamin kelancaran memenangkan pemilihan. Konektifitas oknum - oknum yang menjagokan masing - masing kandidatnya pun mengalami kesulitan dalam menjalankan komunikasi politik guna mendapat rekomendasi Parpol. 

Sementara dari tensi politik lapangan yang sangat erat dengan masyarakat pun mau tidak mau terjerumus dalam ketidakpastian arah pandangan politik, bingung memilih kandidat mana yang tepat dan layak sebagai seorang pemimpin. Misalnya seperti di daerah Maluku Barat Daya (MBD) yang baru - baru ini masih dalam eforia pawai di Kota Tiakur dalam rangka menyambut rekomendasi Partai Golkar dan Demokrat dimana menurut rumor, kedua partai tersebut telah memberikan rekomendasi final ke kandidat yang mereka (massa pawai) jagokan. Tidak tanggung - tanggung, anggota kepolisian kurang lebih 3 personel terlihat sedang mengawal massa yang sedang bergembira ria tersebut.

Selang dua hari kemudian, tidak ada seorangpun di Kota Tiakur atau bahkan MBD yang bisa menjamin bukti fisik bahwa rekomendasi FINAL kedua partai besar tersebut ada dan nyata telah diberikan guna kelengkapan pendaftaran di KPUD. Ini sangat berbahaya jika masyarakat terus - menerus berada dalam pusaran arus informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh pihak - pihak yang sengaja menyebarkannya.

Dalam hal ini, rakyat juga semestinya harus cerdas dalam menanggapi berbagai issue yang beredar. Berbeda pilihan bukan berarti membangun permusuhan. Setiap tumpang - tindih kepentinggan dalam proses memasuki pesta demokrasi ini harus berdampak baik dalam pembangunan daerah,  jangan sampai justru menambah memperburuk keadaan. Rakyat sudah sangat menderita dengan pandemi Covid-19.



#tahuribabunyi
#Pilkada2020

Skuad Tomra MBD Juara Favorit di Liga Desa Nusantara Maluku

8:51 PM
Terpuruk dari segi perekonomian dan kemiskinan, kabupaten Maluku Barat Daya ternyata memiliki potensi atletik yang tidak kalah dengan kabupaten lain di Maluku bahkan Indonesia. Dalam liga desa nusantara 2019 kelas U-19, skuad desa Tomra bumi Kalwedo membuktikan keganasannya dengan meraih piala tim favorit.

skuad Tomra MBD
skuad desa Tomra MBD
Keseblasan Tomra dibawah komando kapten Godwin Makuku ini berkompetisi dengan perwakilan kabupaten lain yang tidak kalah hebatnya. Dari SBT 1 ada desa Angar, SBT2 ada desa Kilmury, SBB diwakili desa Hatusua dan Malteng diwakili desa Asilulu.

Sekalipun kurang mendapat perhatian dari Pemda MBD, skuad desa Tomra memberikan penampilan terbaik di setiap laganya. Dengan anggaran yang terbatas pula, anak - anak di bawah asuhan pelatih Salam Sangadji ini akhirnya membawa pulang gelar tim favorit.

Membawa pulang piala tim favorit adalah prestasi yang sangat membanggakan mereka bahkan kabupaten MBD, mengingat ini adalah kali pertama anak - anak MBD menunjukan taring dalam cabor sepak bola tingkat nasional skala provinsi.

Gagal memperoleh juara 1, tim Tomra gugur dalam adu penalti dengan Asilulu karena pada babak pertama dan kedua, skor tetap imbang 0-0. Pertandingan selesai dengan juara 1 Hatusua, Juara 2 Asilulu, Juara 3 Kilmury.

skuad Tomra MBD
ramah - tama skuad Tomra MBD dengan senior dan pemerhati MBD
Wunuhalono Dahoklory selaku pemerhati MBD menuturkan, dalam bidang olah raga, anak - anak muda Kalwedo punya banyak potensi, hanya saja belum adanya sistem pengelolaan terkait pemberdayaan masyarakat melalui kaderisasi figur baru dalam bidang olahraga khusnya sepak bola. Pemerintah daerah dan pihak terkait seharusnya bisa bekerjasama memfasilitasi potensi anak - anak muda dalam skema pengembangan SDM jangka panjang.

"Ajang Liga Desa Nusantara ini adalah momentum motifasi yang tidak boleh diabaikan begitu saja dan harus mendapat perhatian khusus bagi generasi muda MBD" lanjut Wunuhalono. Menurutnya, pengelolaan SDM dan SDA Maluku Barat Daya harus imbang sesuai ruang lingkup. Hal tersebut dapat membantu menekan angka pengangguran bahkan kemiskinan jika terus dikawal dengan sistem pengawasan yang terukur, terstruktur dan sistematis. 



#tahuribabunyi
#kalwedo
 
Copyright © tahuribabunyi. Designed by OddThemes