![]() |
| Img Source : Orang Ambon #PernahNggaPernah by Cretivox Youtube Channel |
Rasisme tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia datang dalam bentuk senyuman.
#Stereotipe
#Maluku
#tahuribabunyi
![]() |
| Img Source : Orang Ambon #PernahNggaPernah by Cretivox Youtube Channel |
Rasisme tidak selalu datang dengan teriakan. Kadang ia datang dalam bentuk senyuman.
#Stereotipe
#Maluku
#tahuribabunyi
Kasus video asusila yang viral di Ambon bukan sekadar persoalan moral individu. Ini adalah alarm keras bahwa pendidikan karakter, penegakan hukum, dan literasi digital di daerah ini sedang tidak baik-baik saja. Lebih berbahaya lagi, konten semacam ini berpotensi merusak mental generasi muda yang seharusnya tumbuh cerdas, kreatif, dan berbudaya.
Masalahnya bukan siapa pelakunya, melainkan apa dampaknya dan mengapa sistem membiarkannya berulang.
Di era media sosial, video asusila bukan lagi konsumsi terbatas orang dewasa. Sekali viral, konten tersebut bisa:
muncul di ponsel anak sekolah,
beredar di grup WhatsApp keluarga,
dan dikonsumsi tanpa kontrol.
Paparan berulang terhadap konten seksual menyimpang dapat membentuk candu visual, mengaburkan batas normal–tidak normal, dan merusak cara generasi muda memandang relasi manusia. Ini bukan opini emosional, tetapi fakta psikologis yang sudah lama diperingatkan para ahli.
Jika dibiarkan, kita sedang mencetak generasi yang:
kehilangan orientasi nilai,
lebih mengenal sensasi daripada prestasi,
dan menukar kreativitas dengan konsumsi konten menyimpang.
Pendidikan hari ini terlalu sibuk mengejar nilai dan kelulusan, tetapi lupa membangun karakter, etika digital, dan kontrol diri. Anak-anak dibiarkan belajar tentang seks, relasi, dan tubuh manusia dari algoritma media sosial—bukan dari pendampingan orang tua, sekolah, dan lingkungan.
Ketika pendidikan gagal hadir secara utuh, maka jangan heran jika generasi muda lebih cepat meniru apa yang viral daripada memahami mana yang patut dan mana yang merusak.
Lebih ironis lagi, penyebaran konten asusila sering kali tidak diikuti penegakan hukum yang tegas. Akibatnya:
pelaku tidak jera,
penyebar merasa aman,
penonton merasa wajar.
Hukum yang lemah mengirim pesan berbahaya:
selama viral, semua bisa dimaafkan.
Padahal hukum seharusnya berdiri sebagai pelindung masyarakat, terutama anak di bawah umur yang paling rentan terdampak secara mental dan psikologis.
Orang Maluku dikenal dengan budaya didikan, rasa malu, dan hidup orang basudara. Sayangnya, nilai ini justru hilang saat kasus viral muncul. Yang terjadi bukan refleksi, melainkan hujatan massal.
Banyak orang dengan mudah mencaci pelaku di media sosial, seolah-olah mereka sendiri tanpa dosa, tanpa cela, dan tanpa kesalahan. Ini adalah kemunafikan sosial yang berbahaya.
Menghujat bukan mendidik.
Mempermalukan bukan menyelesaikan masalah.
Budaya Maluku tidak mengajarkan persekusi digital, melainkan tanggung jawab kolektif untuk membenahi.
Fokus berlebihan pada pelaku justru membuat kita lupa pada akar masalah:
pendidikan karakter yang rapuh,
pengawasan digital yang lemah,
hukum yang tidak konsisten,
dan budaya viral yang haus sensasi.
Jika semua energi habis untuk menghujat, maka kasus serupa akan terus berulang, dan generasi penerus tetap menjadi korban diam-diam.
Video asusila viral bukan hiburan, bukan gosip, dan bukan bahan ejekan. Ini adalah ancaman serius bagi masa depan generasi Maluku. Jika pendidikan dan hukum terus gagal berjalan seiring, maka kecerdasan dan kreativitas anak-anak Ambon akan terkikis oleh candu penyimpangan digital.
Sudah waktunya masyarakat berhenti berpura-pura suci dan mulai bersikap dewasa:
mendidik, bukan menghakimi;
menegakkan hukum, bukan membiarkan;
melindungi generasi muda, bukan menormalisasi kerusakan.
Karena jika hari ini kita diam, besok yang rusak bukan hanya moral—tetapi masa depan Maluku itu sendiri.
#LiterasiAsusila
#PendidikanKarakter
#tahuribabunyi
Penetapan Upah Minimum Kota (UMK) Ambon tahun 2026 sebesar Rp 3.381.225 kembali menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, kebijakan ini dianggap sebagai bentuk perlindungan bagi pekerja. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar: apakah angka ini benar-benar realistis dan berpihak pada kondisi riil masyarakat Ambon?
Untuk melihatnya secara lebih jujur, UMK 2026 perlu dibedah melalui sisi kelebihan (plus) dan kekurangan (minus).
Penetapan UMK Ambon 2026 seharusnya tidak berhenti pada pengumuman angka. Yang lebih penting adalah pengawasan, penegakan aturan, dan keberpihakan nyata kepada kondisi lapangan.
Tanpa pengawasan ketat, UMK justru berisiko:
membebani usaha kecil
mendorong praktik kerja informal
dan gagal meningkatkan kesejahteraan pekerja
UMK Ambon 2026 sebesar Rp 3.381.225 memiliki niat baik, tetapi belum sepenuhnya menjawab persoalan struktural ketenagakerjaan di Kota Ambon. Kebijakan ini berada di titik tengah: tidak cukup tinggi untuk menjamin hidup layak, namun cukup berat bagi sebagian pelaku usaha.
Jika pemerintah ingin UMK benar-benar berdampak, maka:
data biaya hidup harus lebih realistis
pengawasan harus tegas
dan UMKM perlu didampingi, bukan dibiarkan berjuang sendiri
UMK bukan sekadar angka tahunan, melainkan cermin keberpihakan negara terhadap pekerja dan masa depan ekonomi daerah.
#Ambon
#UMK
#tahuribabunyi
Satu lagi peluang emas untuk masyarakat desa khususnya yang berlimpah sumber daya alam pertanian, perkebunan, peternakan hingga kelautan perikanan. Pasalnya, telah hadir Badan Gizi Nasional (BGN) yang bertugas untuk mengatur sistem tatakelola gizi masyarakat serta bertanggungjawab langsung kepada Presiden.
Kebutuhan gizi nasional yang meningkat pesat pasca terbitnya Peraturan Presiden nomor 83 Tahun 2024 ini menciptakan peluang baru bagi sektor hulu khususnya pasokan pangan dan bumbu dimana seperti yang kita ketahui semua itu ada di level desa.
![]() |
| diskusi santa bersama salah satu kelompok pertanian ubi jalar dan jagung, Kab. Seram Bagian Barat |
Tidak tanggung - tanggung, sekarang Bulog sebagai perusahaan beras nomor satu di Indonesisa pun bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Tidak hanya itu, terobosan baru dari kementrian pertanian yakni Petani Milenial menjadi angin segar bagi para mahasiswa hingga fresh graduate untuk segera menjadi petani.
Di sisi lain, Desa sebagai pemasok bahan baku nomor satu di negara ini ternyata masih belum mencukupi kebutuhan pangan apalagi kebutuhan gizi. Skema baru rantai pasok bahan makanan bergizi harus disambut baik oleh permerintah dan masyarakat desa khususnya desa - desa dengan pertanian dan perikanan terbaik yang ada di Maluku.
Skema yang ditawarkan BGN salah satunya adalah kolaborasi pasokan bahan baku hasil pertanian/perkebunan, perikanan dan peternakan hingga olahan roti skala mikro harus dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Bumdes sebagai processor sekaligus hub memegang peran paling penting dalam mensukseskan skema ini.
Ini akan sangat berdampak pada putaran ekonomi level desa sekaligus terobosan dimana setiap Bumdes akan berlomba menjadi pemasok makanan bergizi di sekolah pada masing - masing desa. Jika peluang ini tidak disambut dengan baik, maka betapa ruginya masyarakat desa khususnya petani dan nelayan.
Sebagai informasi, terdapat beberapa fakta secara general ekosistem Bumdes dan putaran ekonomi desa - desa di Maluku seperti ;
#1. Bumdes mati suri
Bumdes yang seharusnya mendapat stimulasi dari Dana Desa untuk menjalankan bisnis modelnya diharapkan dapat berjalan dengan baik hingga memberikan respon balik ke desa berupa Pendapatan Asli Desa (PADes), namun faktanya kekurangan sumber daya manusia khususnya di bidang keuangan, ekonomi dan bisnis menjadi faktor utama bumdes terbentuk hanya di awal, setelah penyertaan modal selesai, bumdes pun hilang eksistensi dan perannya.
#2 Menajemen kelompok ekonomi Desa
Inisiatif masyarakat, baik petani maupun nelayan dalam membentuk kelompok - kelompok ekonomi mikro dengan tujuan memudahkan pekerjaan dan stabilisasi hasil panen ternyata juga belum maksimal implementasinya. Dominasi keluarga dalam kepengurusan kelompok menimbulkan gesekan internal hingga terjadi gap yang berdampak buruk bagi menajemen kelompok.
#3 Bantuan infrastruktur pertanian / perikanan berdasar Like & Dislike
Bantuan sarpras dan pendampingan dari pemerintah dalam hal infrastruktur pertanian, peternakan hingga kelautan perikanan guna memompa kualitas dan kwantitas hasil panen masih berdasarkan like dan dislike. Di beberapa Desa di Kabupaten Seram Bagian Timur misalnya, terdapat petani murni yang menerima bantuan mesin 25PK padahal yang bersangkutan bukan nelayan, akhirnya mesin tersebut dijual dan tidak ada kelanjutan hasil panen ikan.
#4 Psikologi masyarakat
Beruntung jika pada suatu desa masyarakatnya partisipatif, kompak dan saling pengertian. Jika tidak, maka sudah pasti dominan kebiasaan malas, tidak merawat kebun, hanya menanti BLT atau bahkan mencuri.
Maluku yang terkenal dengan Papeda dan Ikan Kuah kuning ini jelas berarti unggul dalam hal ikan dan sagu. Untuk bisa berasimilasi dengan program pemerintah dalam hal pemenuhan gizi nasional, pilihan ada di tangan masyarakat.
#makanbergizigratis
#BadanGiziNasional
#tahuribabunyi
Nah, Ambon sekarang sudah beda jauh dibanding sepuluh tahun lalu. Perkembangan teknologi, mudahnya akses informasi, hingga trend fashion dan kuliner sangat mempengaruhi karakter orang Ambon yang semulanya terkesan jahat - jahat, kini sudah mulai beralih ke open minded dan lebih mudah berinteraksi lintas jaringan.
Katogori komunitas yang tadinya hanya sebatas seni, baca tulis, musik dan lingkungan, kini sudah mulai menjamur berbagai komunitas dengan bidang yang bisa dibilang cukup aneh, mulai dari :
#1 PENDEKAR 2023
Bukan komunitas bela diri. Pendekar adalah kependekan dari Penjaga Daerah Sekitar yang bergerak di bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak termasuk lingkungan. Uniknya, Komunitas ini hanya terdiri dari anak - anak usia di bawah 18 tahun. Yang paling luar biasa dari komunitas ini adalah ketika mereka belum memahami betul sistem birokrasi dan keterbatasan pengalaman, justru mereka mampu merencanakan dan mengeksekusi program - program besar tanpa backup orang belakang dan anggaran proyek. Salah satu program sukses mereka adalah Workshop dan eksekusi pembersihan pantai serta tanam 200 mangrove di Pantai Desa Tawiri unik memulihkan ekosistem pantai di sana. Total partisipan lebih dari 250 bocah dan perangkat Desa mulai dari RT, Kepala Zoa hingga Babinkamtibmas dan Babinsa Desa Tawiri. Lebih dari 40 kantong besar berisi sampah berhasil mereka kumpulkan dan mengangkutnya ke tempat sampah.
#2 Komunitas kontes nyanyi, fashion, kecantikan dan ketampatan
Dulu kita hanya mengenal Indonesia Idol dan Bintang Radio. Sekarang banyak sekali kontes yang dipromosikan di Maluku hingga melahirkan agency yang membina calon - calon peserta. Tidak sedikit anak - anak kecil, remaja hingga dewasa yang berminat mendaftar dan mengikuti kontes-kontes tersebut, mungkin karena anak - anak jaman sekarang lebih tertarik dengan kegiatan ekstrakurikuler dan panggung untuk mengasah bakat walaupun ternyata ekspektasi mereka akhirnya sangat berbeda dengan realita yang dihadapi. Menajemen abal - abal, tumpang tindih kepentingan, hingga kena tipu, sering kali membuat para kontestan kecewa yang akhirnya membuat beberapa ajang bergengsi terkesan tidak professional.
#3 Komunitas LGBT
Tanpa disadari, kampanye hitam kaum 'pelangi' mulai diperbincangkan secara diam - diam. Hal yang dianggap tabuh ini tentu saja ditolak 100% orang Maluku apalagi seiring bertambahnya kasus HIV/AIDS. Waspada lingkungan sekitar anda, mulai dari tetangga, koskosan, teman kantor, atau bahkan diri anda sendiri tanpa anda sadari.
#4 Komunitas Politik Lapangan
Bagi yang sering nongkrong di pos ojek, kafe, rumah kopi atau restoran pasti pernah merasakan risihnya orang sebelah yang bicara panjang lebar soal politik bak asisten pribadi Socrates dengan suara yang sengaja dikeraskan. Orang - orang ini biasanya punya komunitas politik yang ditugaskan untuk menggiring issue atau mengumpulkan informasi di lapangan demi kepentingan tertentu. Walaupun pada ujungnya sudah pasti yang didapat orang - orang seperti ini hanyalah gigit jari.
#5 Panggel Pulang
Kampung panggel pulang, sekolah panggel pulang, teman masa kecil panggel pulang, kompleks panggel pulang, pokoknya hampir semua jaringan ada panggil pulangnya. Setelah pulang, biasanya ada pesta, silaturahmi, update silsilah keluarga dan jumlah jiwa, ujung-ujungnya ada kepentingan politiknya juga. Hmm
#6 Komunitas Mancing
Perilaku komunitas mancing bukan lagi naik perahu lalu mancing di sekitar saharu. Sekarang hampir di tiap jembatan ada saja orang yang mancing, di pinggir - pinggir pengeringan pantai ada juga yang mancing, di atas kapal yang lagi bebas jadual pun ada yang mancing, di atas tebing - tebing batu karang ada juga yang mancing. Walaupun hanya bawa pulang sisa umpan tanpa hasil, besoknya si tukang mancing ini akan balik lagi ke tempat yang sama. Begitu seterusnya sampai entah kapan mereka berhenti mancing.
#7 KOMA
Kalau tidak ada yang mengucapkan kata KOMA, maka komunitas ini akan terus mimun kopi hingga bergelas - gelas. KOMA adalah singgatan dari Kopi Maluku sekaligus kata penutup untuk mengakhiri pertemuan minum kopi. Yang membedakan dari peminum kopi lain adalah setiap personel KOMA mampu minum lebih dari lima gelas berturut - turut SETIAP HARI. Anehnya mereka tetap sehat dan tidak terkena penyakit asam lambung ataupun jantung. Konon mereka ini adalah orang - orang yang sangat memahami dunia kopi.
#komunitasambon
#komunitasmaluku
#komunitas
![]() |
| Image Pilkada 2020 Source :CNNINDONESIA |
![]() |
| skuad desa Tomra MBD |
![]() |
| ramah - tama skuad Tomra MBD dengan senior dan pemerhati MBD |