Mengenal Jenis Pakaian Adat Perempuan Maluku

4:15 AM
pakaian tradisional perempuan maluku

Kita sepakat bahwa baju cele atau kain kebaya akan menjadi jawaban yang pertama dipikirkan ketika ditanyai mengenai pakaian adat orang Maluku. Padahal Maluku terdiri dari banyak daerah dengan ciri khas pakaian adat masing - masing, uniknya motif dan makna filosofis dari pakaian - pakaian tersebut memiliki arti yang mirip. kebanyakan melambangkan motif cengkeh dan pala, bunga melati, burung talang, geometri unik serta motif lainnya :

#1. Baju Cele Kain Salele

Pada umumnya berwarna dasar merah muda atau putih-krem dan bergaris - garis geometris berkotak - kotak yang berwarna merah.

pakaian tradisional perempuan maluku
baju cele dan ikat pinggang
image source: indonesiatimur.co
Baju cele ini sering digunakan dalam pementasan tarian tradisional seperti Tari Orlapei. Pada tahun 2014, pakaian ini dijadikan sebagai pakaian seragam siswa sekolah (khusus pada hari jumat). Untuk sedikit lebih formal, baju cele ini sering dikombinasikan dengan kain Salele yang disarung dari luar yang panjangnya hingga ke lutut.

pakaian tradisional perempuan maluku
formal : Baju Cele Kain Salele + Lenso
source
Untuk yang lengkap seperti ini, biasanya digunakan dalam upacara adat seperti panas pela dan pementasan tarian - tarian tradisional. Ketika pakaian ini dikenakan, tak lupa dikombinasikan dengan konde yang berbentuk bulan (semua konde Orang Maluku berbentuk Bulan) berhiaskan haspel atau tusukan konde yang terbuat dari emas atau perak (kadang rangkaian mutiara), uniknya penampilan ini seharusnya tidak beralas kaki tetapi selop sering menjadi alternatif mengingat jalanan di Ambon sudah banyak yang beraspal. Hingga akhir tahun 2008, penampilan seperti ini sering kita jumpai ketika melihat mama - mama atau oma - oma yang sedang berjualan di pasar.


#2. Kain Kebaya / Dalaman Cole

Kebaya putih, lengan panjang yang terbuat dari kain brokar warna putih dan memiliki kancing pada ujung lengan dan dikombinasikan dengan dalaman yaitu cole (kutang) yang panjangnya hingga ke sikut atau bahu dan pada bagian atasnya diberi renda, bagian belakang dibordir dan bagian depan diberi kancing. Untuk bawahan (Mulai dari perut hingga kaki) menggunakan kain silungkang berwarna merah dengan motif tertentu (biasanya motif bergaris/ bunga cengkeh) sedangkan untuk bagian kaki biasanya menggunakan selop berujung lancip dengan motif bunga melati atau bisa juga tidak beralas kaki.

pakaian adat perempuan maluku

Pakaian ini sering digunakan untuk pementasan Tarian Katreji, Tari Lenso, dansa dll. Dengan motif dan bahan kain yang hampir mirip, Fashion ini juga digunakan sebagai pakaian mempelai perempuan dalam pernikahan dengan sedikit fariasi bahan dan pernak - pernik.


#3. Kebaya Hitam

Pakaian ini hanya dikhususkan untuk pergi ke geraja (dianggap sakral) sehingga sering dipakai oleh anak perempuan anggora sidi baru dan majelis perempuan dengan bahan dasar kain brokar lengan panjang berwarna hitam dengan kombinasi kain pikul bermotifkan salib atau burung merpati atau bunga. Untuk bawahan, menggunakan cenela hitam dengan kaos kaki putih.

pakaian tradisional perempuan maluku
Kebaya Hitam + Kain Pikul
source
#4. Kain Tenun

Masih banyak jenis pakaian adat Maluku (khusus perempuan) dengan motif dan bahan - bahan khas lainnya seperti Maluku Tenggara Barat (MTB) yang kental dengan motif ornamen yang dirajut menggunakan alat tenun sehingga dikenal dengan kain tenun yang dikombinasikan dengan pernak - pernik mulai dari kepala hingga kaki.

pakaian adat perempuan tanimbar

pakaian adat perempuan tanimbar

pakaian adat perempuan tanimbar
pakaian adat tanimbar biasanya digunakan untuk menari
Mirip seperti daerah lainnya di Maluku, tiap pakaian memiliki maknanya sendiri baik dalam pementasan tari, upacara adat, pernikahan dll. Burung Cendrawasih dan pernak pernik lainnya dijadikan hiasan di atas kain tenun berpola khusus yang melambangkan setidaknya kebesaran, kemakmuran dan persaudaraan yang kuat yang dimiliki orang Tanimbar - Maluku Tenggara Barat.



#tahuribabunyi

Fakta Cakalele Dan Perang Orang Maluku

4:14 AM
Dunia mengenali Cakalele sebagai Tari Perang asal Maluku. Faktanya sejak jaman dahulu hingga sekarang, tarian ini digunakan oleh orang Minahasa, Maluku Utara, Maluku Tengah hingga Maluku Tenggara dengan nama tarian yang sama yaitu Cakalele.

Cakalele
source
Postingan kali ini akan penulis ulas sejelas - jelasnya mengenai Tari Cakalele yang dirangkum dari beberapa sumber tertulis ataupun dari cerita turun - temurun dari para tetua adat yang pernah penulis dengar hingga yang penulis saksikan sendiri dengan mata kepala.

Cakalele merupakan bahasa tanah yang terdiri dari dua kata yaitu "caka" yang berarti "roh" dan "lele" yang berarti "mengamuk" sehingga Cakalele dapat diartika sebagai roh yang mengamuk (Orang belanda menyebutnya Tjakalele). Lalu apa hubungannya dengan tari perang ?

Sejak jaman kerajaan Nunusaku Maluku (jauh sebelum masa penjajahan), bangsa Alifuru dikenal sangat kuat dalam sistem peperangan walau hanya dengan parang, tombak, salawaku dan busur beserta anak panah yang digunakan untuk menghadapi ancaman dari luar untuk tetap mempertahankan tanah, yang dikenal dengan bahasa  "Saka Mese Nusa" yang berarti "jaga baik - baik pulau/tanah ini" atau "Mena Muria" yang berarti "pasukan selalu siap depan blakang". Jaman dulu, sebelum berperang, bangsa Alifuru biasanya memainkan tarian Cakalele, memanggil roh leluhur agar merasuki mereka kemudian pergi berperang, setelah lawannya mati maka prajurit Alifuru akan meminum darahnya sebagai imbalan atas roh yang merasukinya yang sudah membantu dalam berperang. Darah merupakan simbol yang sangat identik dengan Orang Maluku baik dalam berperang maupun dalam menjalin persaudaraan. Sumpah pela gandong jaman dahulu pun ditandai dengan meminum darah untuk mendapat pengakuan persaudaraan yang mengikat.

Tarian Cakalele sendiri pernah penulis lihat dengan jelas dari sela - sela jendela semasa kecil pada kerusuhan Ambon 1998-2000. Mulanya prajurit berpakaian perang lengkap, Parang di tangan kanan, Salawaku di tangan kiri, Busur menyerong dari bahu ke pinggang, rangkaian Anak Panah diikat di punggung, pemusik atau yang bertugas memanggil roh membacakan doa sambil memainkan tifa untuk memanggil roh sedangkan prajurit mulai melakukan tarian (bukan sembarang tarian, ada polanya). Jika musik, tarian atau doa dilakukan dengan proses yang salah maka roh tidak akan datang. Beberapa saat kemudian, prajurit mulai berteriak - teriak, tak lama matanya mulai merah, tangan kanannya sendiri mulai bergerak tidak karuan memotong sana sini (apa saja ditebas) pertanda prajurit tersebut telah dirasuki dan siap untuk berperang. Tidak hanya itu, prajurit yang mencapai level ini pun memiliki badan yang kebal, anti peluru dan tidak bisa dipotong. Kejadian itu tidak pernah penulis lupakan.

Penjelasan senjata yang digunakan :
  1. Parang & Salawaku
    Parang atau pedang khas orang Maluku itu sangat berbeda dengan pedang pada umumnya. Bentuknya panjang, ujunngnya memiliki sudut.
    Parang & Salawaku
    source
    Sedangkan Salawaku digunakan sebagai tameng untuk menangkis serangan. Jika dalam pertempuran, bagian depan Salawaku biasanya dilumuri dengan pecahan piring/kaca atau benda - benda tajam.

  2. Busur dan Anak Panah
    Busur yang panjang, dengan anak panah yang panjang berujung besi yang diraut berlancip - lancip. kira - kira seperti ini
    Busur dan Anak Panah
    Busur dan Anak Panah
    source
  3. Tombak
    Bentuk Tombak khas Maluku ditunjukan dengan sangat jelas pada Patung Christina Martha Tiahahu di Karpan.

Setelah berakhirnya kerusuhan Ambon, selain pada pusaka masing - masing Negeri di Maluku, senjata - senjata ini kebanyakan disita oleh aparat sehingga sulit ditemukan oleh orang yang tidak berkepentingan. Hingga sekarang, tarian perang ini diperkenalkan pada dunia dengan nama Tari Cakalele atau Tari Hasa. Tari Hasa mirip dengan Tari Cakalele, akan tetapi penari Tari Hasa mementaskannya secara sadar sedangkan penari Cakalele akan dirasuki roh.

Tari Hasa dipertunjukan pada event kebudayaan atau penyambutan tamu, sedangkan Tari Cakalele yang asli hanya digunakan pada upacara adat atau saat mendesak seperti terjadinya perang.



#tahuribabunyi
 
Copyright © tahuribabunyi. Designed by OddThemes