Finalis Puteri Anak Indonesia 2021 Aurel Sopulatu

12:29 PM

Era milenial adalah panggung kreatifitas tanpa batas. Dalam dunia fashion, gaya vintage, casual bahkan glamor sangat digemari anak - anak, remaja hingga dewasa. Dunia layar kaca pun tidak luput dari konsep milenial.

Di sisi lain, Indonesia sangat kental dengan ragam suku dan budaya. Bukan hal mudah untuk bisa eksis pada era milenial dengan tetap mempertahankan budaya.

Salah satu finalis Puteri Anak Indonesia (PAI) 2021 dari Provinsi Maluku, Aurel Sopulatu punya pandangan berbeda. "Milenial dan Modern bukan berarti hilang identitas".

Puteri Cilik Indonesia Lingkungan

Di umur yang masih sangat muda, Aurel menegaskan bahwa dibutuhkan keberanian dan ketangguhan untuk bisa masuk dan eksis dalam dunia milenial, tidak boleh asal ikut-ikutan. Misalnya dalam berbusana, orang Ambon bisa berbusana Jakarta, atau berbusana Sulawesi, namun kharisma dan identitas sebagai orang Ambon jangan smapai hilang.

Nona manis Kelas 2 SMP ini sangat interaktif ketika diwawancarai, jawaban - jawabannya yang kritis cukup membuat admin tahuribabunyi harus ekstra googling menambah refrensi ngobrol.

Aurel Sopulatu

Bermula dari melihat brosur kontes kecantikan untuk kategori Puteri Anak Indonesia, Aurel memberanikan diri untuk mendaftar di sela - sela aktivitas sekolah. Latihan rutin dan disiplin, dukungan dari teman - teman dan keluarga ternyata mampu membawa Aurel meraih mahkota Juara I Puteri Anak Indonesia Provinsi Maluku dan maju ke kancah Nasional.


Keseriusan seperti menjaga berat badan, latihan olah vocal, bermain ukulele, meniup terompet kerang dan belajar fashion benar - benar membuat Aurel seperti memasuki dunia yang sangat baru di umur yang masih sangat muda. Hal yang jarang dialami anak - anak Ambon pada umumnya. 

Aurel Sopulatu

"Mewakili Provinsi Maluku dalam kontes Nasional yang diselenggarakan DD Organization tentu melewati proses panajang dan langkah selanjutnya harus dipersiapkan sebaik mungkin karena ini peluang yang langka" -pendapat Aurel.

Ditanya mengenai talent yang akan dipentaskan, Aurel hanya tersenyum sambil mengajak seluruh masyarakat Maluku untuk mendukung dan terus mengikuti kontes PAI lewat akun Youtube @DD Organization dan IG @officialputerianakindonesia. "Pastinya saya akan mementaskan ragam busana Maluku dan Bermain Ukulele" -lanjut Aurel.

Aurel Sopulatu

Hingga malam puncak Grand Final, Sabtu 6 November 2021 puteri kelahiran 30 Juni 2008 ini berhasil meraih prestasi Runner Up 2 dengan kategori Puteri Anak Indonesia Lingkungan setelah tiga kali lolos dalam seleksi dua puluh satu besar, sebelas besar hingga lima besar.

 

#tahuribabunyi
#ddorganization

Kopi Tuni Eksis di Athena

5:44 AM

Tidak kalah dalam hal kualitas dan branding, eksistensi Kopi Tuni dalam bentuk final produk A1 150 gr per bag sukses dalam hal penetrasi pasar kopi internasional.

Athens Coffee Festival

Diundang langsung oleh Dubes Bapak Ferry Adamhar, Kopi Tuni bersama kopi unggul lainnya mewarnai booth Indonesia di Athens Coffee Festival. 

Selain untuk mempromosikan kopi nusantara, Indonesia dan Yunani diharapkan dapat terus bermitra khususnya dalam sektor perdagangan mengingat posisi Yunani sangat vital sebagai pintu penetrasi pasar Eropa.

Indonesia Athens Coffee Festival
malam persiapan

KOPI TUNI di festival kopi internasional
Pengunjung peminat Kopi Indonesia

KOPI TUNI di festival kopi internasional
Master Class langsung dari Bapak Dubes ketika mempromosikan kopi Indonesia

Ada 3 varian produk Kopi Tuni yang dikirim oleh tim Marketing dari Maluku ke tim KBRI Yunani, yaitu Kopi Tuni dari Negeri Haya - Kab. Maluku Tengah jenis Arabica, Kopi Tuni dari Negeri Ohoi Mur - Kab. Maluku Tenggara Jenis Robusta, dan Kopi Tuni dari Negeri Buano - Kab. Seram Bagian Barat jenis Tuni. 

Varian produk tersebut persis sesuai catalog produk kopi tuni Paket A1, yang sudah disangrai secara manual dan dikemas oleh sektor UMKM.

KOPI TUNI di festival kopi internasional
Produk Kopi Tuni Paket A1 150gr per bag roasted bean



#kopituni

Apa itu KOPI TUNI ?

4:25 AM

Jenis kopi yang paling dikenal dunia adalah Arabica, Robusta dan Liberica, sementara jenis lainnya sering disebut dengan istilah single origin atau kopi khas daerah tertentu dengan banyak varian jenis maupun citarasa. Lalu bagaimana dengan KOPI TUNI ?

Bibit Unggul Kopi Tuni
Bibit unggul Kopi Tuni tanpa pupuk dan pestisida

Eksistensi pohon Kopi Tuni sendiri sudah ada jauh sebelum masa kolonial. Salah satu butir tuntutan Kapitan Pattimura terhadap Van Middelkoop (perang Pattimura 1817), disebutkan bahwa mereka menolak percobaan penanaman Pala dan Kopi oleh Belanda. Ini adalah bukti mengapa di Maluku tidak ada perkebunan kopi pada masa kolonial.

Jauh sebelum itu, Jepang pernah mencoba membuat perkebunan kopi di daerah Luhu, Seram Bagian Barat, dan Tanimbar Utara dengan tujuan mereka bisa menikmati kopi tanpa harus menunggu stok dari perkebunan kopi di daerah lain.

Kopi Tuni termasuk dalam varian single origin dengan tingkat perbedaan yang sangat unik dibandingkan dengan Arabica, Robusta maupun Liberica. Pohon Kopi Tuni tumbuh di Pulau - pulau Maluku dengan persebaran mulai dari pesisr pantai hingga area pegunungan. 

Karena sebelumnya tidak ada harga, Pohon ini biasanya ditebang petani untuk dijadikan kayu bakar atau elemen konstruksi jerat binatang di hutan karena kayunya yang elastis dan kuat. Persebaran Kopi Tuni yang tumbuh liar ini paling banyak ditemukan di Pulau Seram, sementara persebaran lainnya di Pulau - pulau Lease, Buru, Kei, Yamdena dan Wetar. Sangat jarang ditemukan di Hutan - hutan Pulau Ambon. Diduga, pohon Kopi Tuni juga tersebar secara liar dan alami di Pulau - pulau Maluku Utara dan Papua Barat. 

Secara fisik, Kopi Tuni memiliki diamenter batang pohon, daun hingga biji kopi yang lebih kecil dibanding Robusta dan Arabica. 

Dari teknik pengolahan hasil panen hingga menjadi secangkir kopi, ternyata didapati berbagai macam keunikan yang justru menjadi keunggulan dari kopi itu sendiri.

Menurut Yulius Wibowo atau akrab disapa Bowo Kopi oleh para petani, narasumber yang meneliti kopi ini, biji Kopi Tuni bisa menimbulkan mispersepsi jika diluncurkan secara langsung ke dunia bisnis dan perdagangan komoditi kopi. Hal ini dikarenakan orang akan mengira biji Kopi Tuni itu cacat karena ukurannya yang sangat amat kecil.

Citarasa yang didapati pun berbeda - beda tergantung daerah asal Kopi Tuni tumbuh dan Jenis Pohon Penaung. Ada yang rasa cengkeh, kenari, pala, durian, mangga, wine, kacang dan masih banyak lagi. Hal ini dikarenakan perilaku petani Maluku yang cenderung bertani menggunakan teknik tumpang sari, dimana dalam satu dusun/kebun, terdapat berbagai macam pohon-pohon produktif.

Prihatin akan realita Petani dan potensi Kopi Tuni bak Mutiara Hitam yang terabaikan, Bowo Kopi menggagas sistem tata kelola Kopi Maluku berbasis ekonomi sosial kerakyatan dengan tujuan meningkatkan taraf hidup Petani dan UMKM di Maluku.

Tidak tanggung - tanggung, sebuah Yayasan Kopi Maluku telah berdiri secara legal sejak tahun 2019 dan menjadi fasilitator atas pembentukan Koperasi Seribu Negeri Kopi Maluku yang beranggotakan Petani dan UMKM untuk menggerakan motor ekonomi mikro.

Hingga kini, Koperasi telah membeli biji Kopi Tuni dari anggota Petani dengan harga Rp. 30.000 / Kg, tentunya dengan spesifikasi yang telah disosialisasikan oleh Yayasan. Biji kopi tersebut kemudian diolah oleh UMKM terlatih untuk melahirkan final produk berkualitas tinggi yang mampu bersaing dalam pasar kopi nasional maupun internasional.

Siklus asas manfaat pun dapat dinikmati oleh Petani dan UMKM anggota Koperasi mulai dari rantai pasok, Pembibitan, Perkebunan, Pasca Panen, Gudang, UMKM Sangrai, UMKM Kemasan, UMKM Barista dan Kedai Kopi hingga UMKM Digital Marketing.

Rantai kerjasama skala micro ini terdiri dari Petani, Pemuda dan Industri Kreatif yang sepakat serta mendukung Program Revitalisasi Kopi Maluku dengan harapan agar Maluku bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi yang jauh dari kepentingan kapitalis dan eksploitasi.

 

 


#KopiTuni

 
Copyright © tahuribabunyi. Designed by OddThemes