PARIWISATA

OPINI

TRADISI

Latest Updates

Kopi Tuni Eksis di Athena

5:44 AM

Tidak kalah dalam hal kualitas dan branding, eksistensi Kopi Tuni dalam bentuk final produk A1 150 gr per bag sukses dalam hal penetrasi pasar kopi internasional.

Athens Coffee Festival

Diundang langsung oleh Dubes Bapak Ferry Adamhar, Kopi Tuni bersama kopi unggul lainnya mewarnai booth Indonesia di Athens Coffee Festival. 

Selain untuk mempromosikan kopi nusantara, Indonesia dan Yunani diharapkan dapat terus bermitra khususnya dalam sektor perdagangan mengingat posisi Yunani sangat vital sebagai pintu penetrasi pasar Eropa.

Indonesia Athens Coffee Festival
malam persiapan

KOPI TUNI di festival kopi internasional
Pengunjung peminat Kopi Indonesia

KOPI TUNI di festival kopi internasional
Master Class langsung dari Bapak Dubes ketika mempromosikan kopi Indonesia

Ada 3 varian produk Kopi Tuni yang dikirim oleh tim Marketing dari Maluku ke tim KBRI Yunani, yaitu Kopi Tuni dari Negeri Haya - Kab. Maluku Tengah jenis Arabica, Kopi Tuni dari Negeri Ohoi Mur - Kab. Maluku Tenggara Jenis Robusta, dan Kopi Tuni dari Negeri Buano - Kab. Seram Bagian Barat jenis Tuni. 

Varian produk tersebut persis sesuai catalog produk kopi tuni Paket A1, yang sudah disangrai secara manual dan dikemas oleh sektor UMKM.

KOPI TUNI di festival kopi internasional
Produk Kopi Tuni Paket A1 150gr per bag roasted bean



#kopituni

Apa itu KOPI TUNI ?

4:25 AM

Jenis kopi yang paling dikenal dunia adalah Arabica, Robusta dan Liberica, sementara jenis lainnya sering disebut dengan istilah single origin atau kopi khas daerah tertentu dengan banyak varian jenis maupun citarasa. Lalu bagaimana dengan KOPI TUNI ?

Bibit Unggul Kopi Tuni
Bibit unggul Kopi Tuni tanpa pupuk dan pestisida

Eksistensi pohon Kopi Tuni sendiri sudah ada jauh sebelum masa kolonial. Salah satu butir tuntutan Kapitan Pattimura terhadap Van Middelkoop (perang Pattimura 1817), disebutkan bahwa mereka menolak percobaan penanaman Pala dan Kopi oleh Belanda. Ini adalah bukti mengapa di Maluku tidak ada perkebunan kopi pada masa kolonial.

Jauh sebelum itu, Jepang pernah mencoba membuat perkebunan kopi di daerah Luhu, Seram Bagian Barat, dan Tanimbar Utara dengan tujuan mereka bisa menikmati kopi tanpa harus menunggu stok dari perkebunan kopi di daerah lain.

Kopi Tuni termasuk dalam varian single origin dengan tingkat perbedaan yang sangat unik dibandingkan dengan Arabica, Robusta maupun Liberica. Pohon Kopi Tuni tumbuh di Pulau - pulau Maluku dengan persebaran mulai dari pesisr pantai hingga area pegunungan. 

Karena sebelumnya tidak ada harga, Pohon ini biasanya ditebang petani untuk dijadikan kayu bakar atau elemen konstruksi jerat binatang di hutan karena kayunya yang elastis dan kuat. Persebaran Kopi Tuni yang tumbuh liar ini paling banyak ditemukan di Pulau Seram, sementara persebaran lainnya di Pulau - pulau Lease, Buru, Kei, Yamdena dan Wetar. Sangat jarang ditemukan di Hutan - hutan Pulau Ambon. Diduga, pohon Kopi Tuni juga tersebar secara liar dan alami di Pulau - pulau Maluku Utara dan Papua Barat. 

Secara fisik, Kopi Tuni memiliki diamenter batang pohon, daun hingga biji kopi yang lebih kecil dibanding Robusta dan Arabica. 

Dari teknik pengolahan hasil panen hingga menjadi secangkir kopi, ternyata didapati berbagai macam keunikan yang justru menjadi keunggulan dari kopi itu sendiri.

Menurut Yulius Wibowo atau akrab disapa Bowo Kopi oleh para petani, narasumber yang meneliti kopi ini, biji Kopi Tuni bisa menimbulkan mispersepsi jika diluncurkan secara langsung ke dunia bisnis dan perdagangan komoditi kopi. Hal ini dikarenakan orang akan mengira biji Kopi Tuni itu cacat karena ukurannya yang sangat amat kecil.

Citarasa yang didapati pun berbeda - beda tergantung daerah asal Kopi Tuni tumbuh dan Jenis Pohon Penaung. Ada yang rasa cengkeh, kenari, pala, durian, mangga, wine, kacang dan masih banyak lagi. Hal ini dikarenakan perilaku petani Maluku yang cenderung bertani menggunakan teknik tumpang sari, dimana dalam satu dusun/kebun, terdapat berbagai macam pohon-pohon produktif.

Prihatin akan realita Petani dan potensi Kopi Tuni bak Mutiara Hitam yang terabaikan, Bowo Kopi menggagas sistem tata kelola Kopi Maluku berbasis ekonomi sosial kerakyatan dengan tujuan meningkatkan taraf hidup Petani dan UMKM di Maluku.

Tidak tanggung - tanggung, sebuah Yayasan Kopi Maluku telah berdiri secara legal sejak tahun 2019 dan menjadi fasilitator atas pembentukan Koperasi Seribu Negeri Kopi Maluku yang beranggotakan Petani dan UMKM untuk menggerakan motor ekonomi mikro.

Hingga kini, Koperasi telah membeli biji Kopi Tuni dari anggota Petani dengan harga Rp. 30.000 / Kg, tentunya dengan spesifikasi yang telah disosialisasikan oleh Yayasan. Biji kopi tersebut kemudian diolah oleh UMKM terlatih untuk melahirkan final produk berkualitas tinggi yang mampu bersaing dalam pasar kopi nasional maupun internasional.

Siklus asas manfaat pun dapat dinikmati oleh Petani dan UMKM anggota Koperasi mulai dari rantai pasok, Pembibitan, Perkebunan, Pasca Panen, Gudang, UMKM Sangrai, UMKM Kemasan, UMKM Barista dan Kedai Kopi hingga UMKM Digital Marketing.

Rantai kerjasama skala micro ini terdiri dari Petani, Pemuda dan Industri Kreatif yang sepakat serta mendukung Program Revitalisasi Kopi Maluku dengan harapan agar Maluku bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi yang jauh dari kepentingan kapitalis dan eksploitasi.

 

 

#KopiTuni

Pengukuhan Raja Hina Alane 2020

4:00 PM

Hiruk - pikuk pela gandong menghiasi negeri Allang dalam proses pengukuhan Raja yang baru yaitu  Bapak Oktavianus Edward Patty. Para undangan atau yang mewakili seperti Wagub Barnabas Orno dan Bupati Malteng Abua Tuasikal terlihat antusias menyaksikan momen manis tersebut.

Hina Allane

Acara yang berlangsung dari pagi subuh hingga siang pukul 13:00 ini memberikan makna tersendiri bagi dinamika orang basudara khususnya antara negeri Allang dan para negeri pela gandong seperti Larike dan negeri - negeri Jazirah lainnya. 

Kain gandong yang terbentang terlihat melingkari para petinggi negeri, berjalan mengiringi raja yang baru ke dalam rumah raja yang dilanjutkan dengan arak - arakan di beberapa ruas jalan negeri Allang.

Hina Allane

Pasukan Alifuru Cakalele  yang mengawal prosesi ini sebelumnya bermalam di atas gunung hingga mulai turun gunung pada pukul 05:00 subuh. Cakalele yang diperlihatkan pasukan piawai ini memberikan kesan akan kuatnya orang Maluku dalam seni berperang.

Hina Allane

Tak lupa tim musik tifa totobuang selalu siap sedia dalam memainkan musik tradisional mengiringi arak - arakan dan tari - tarian.

Hina Allane

Hina Allane

Panas terik, pandemi, dan beberapa agenda molor tidak menjadi halangan bagi masyarakat untuk tetap mengikuti acara hingga selesai. 



#tahuribabunyi
#pelantikanraja
#HinaAllane

Kopi Maluku dan Identitas Kepulauan Rempah

4:00 AM

Dengan ambruknya neraca perdagangan negara - negara petarung dalam revolusi industri 4.0 pasca pandemi Covid-19, tidak sedikit inovasi dari berbagai sektor pembangunan perlahan mulai dirintis dengan penuh ketelitian terhadap ramalan perekonomian masa depan. Industri makanan dan minuman cepat saji pun turut melebarkan sayap dalam pengembangan (termasuk temuan baru) yang tentunya memiliki daya saing yang kompetitif.

Baru - baru ini telah ditemukan suatu potensi perdagangan rempah khususnya biji kopi yang diteliti berdasarkan kajian historikal serta kualitas biji kopi itu sendiri. Jelas saja, dunia kopi digegerkan dengan eksistensi Kopi Tuni yaitu kopi (diduga) endemik Maluku yang 'terpendam' bahkan terabaikan berabad - abad lamanya.

Perbandingan Kopi Maluku

Yang unik dari jenis kopi ini adalah ukuran bijinya yang lebih kecil daripada kopi robusta, pohonnya bisa tumbuh di pinggir pantai, memiliki banyak citarasa sesuai tanaman (pohon) lain yang ada di samping pohon kopi itu sendiri sehingga Kopi Tuni bisa memiliki citarasa mangga ketika tumbuh di dekat pohon mangga, memiliki citarasa cengkeh ketika tumbuh di dekat pohon cengkeh dan seterusnya.

Jika ditinjau dari kajian masa kolonial (hongitochten), ternyata salah satu butir Proklamasi Haria pada tahun 1817 oleh rakyat Maluku dibawah kepemimpinan Pattimura menolak menanam kopi serta menolak menyetorkan biji kopi ke Belanda karena Haria dan beberapa pulau lainnya sudah memiliki kopi sendiri yaitu Kopi Tuni, konon rempah ini sangat khusus dan hanya dikonsumsi oleh kalangan para raja dan tua - tua adat.

Dalam diskusi daring yang diselenggarakan oleh Paguyuban Darah Juang pada Jumat 25/09/2020, Amril Buamona selaku pegiat kopi dan rempah Maluku memaparkan materi yang sangat runtun mengenai konektifitas antara Kopi Maluku, Jalur Rempah, Ekonomi hingga Sosial Budaya pada masa kolonial.

Diskusi Paguyuban Darah Juang
 

Tidak hanya itu, diskusi yang berlangsung selama hampir dua jam tersebut disambut oleh berbagai peserta dengan pertanyaan yang mengerucut ke entitas kopi tuni  hingga implikasi tata kelolanya dalam skema pembangunan daerah maupun nasional.

Amril mengajak seluruh kalangan baik pemerintah, swasta maupun para pemangku kepentingan untuk bersama bersinergi dalam memproyeksikan potensi kopi Maluku melalui koperasi petani yang telah dibentuk yaitu Koperasi (produksi) Seribu Negeri Kopi Maluku dibawah naungan Yayasan Kopi Maluku.

Melalui program tersebut, diharapkan Maluku bisa kembali berjaya dalam dunia rempah sesuai identitasnya yaitu "The Spice Islands".



#tahuribabunyi

 
Copyright © tahuribabunyi. Designed by OddThemes